Boston Major; Turnamen DOTA 2 dengan Single Elimination Bracket Pertama

Boston Major; Turnamen DOTA 2 dengan Single Elimination Bracket Pertama

Para penggemar dan pemain dota diuntungkan dengan adanya format turnamen dota 2 konvensional karena menyajikan lebih banyak game. Hal ini berbeda dengan yang terjadi di Boston Majot, Valve menggunakan single-elimination untuk pertama kalinya. Tidak ada kata kesempatan kedua atau redemption dalam turnamen major dota 2 besutan Valve.

 tempat turnamen dota 2 boston major

Tim yang Terlempar ke Loser Bracket Lebih Diuntungkan

Kalau format single-elimination ini udah digunain dari dulu maka tim seperti CDEC akan jadi juara TI5 dan NAVI akan bakal jadi juara The International dua kali berturut-turut, istilahnya NAVI untuk pertama kali di DOTA 2 bakal back to back champion. Dalam turnamen yang diadain Valve, tim winner bracket memiliki keunggulan untuk bermain lebih sedikit sehingga lebih bayak waktu untuk istirahat dan persiapan selanjutnya dan mendapatkan keunggulan hadiah yang lebih banyak secara cepat. Tapi keuntungan tersebut bak pedang bermata dua, tim yang kalah dan terlempar ke loser bracket memperoleh lebih banyak pengalaman dan hal itu menguntungkan untuk berkembangan tim, dengan keuntungan tersebut membuat tim yang terlempar ke loser bracket mempunyai kelebihan untuk mengalah tim winner bracket.  

Sebagai contoh Evil Geniuses (EG), tim yang mendapat keuntungan dari adanya double-elimination bracket, yang menjadikan EG juara TI5. Selama TI5, CDEC menyapu bersih tim EG layaknya tim medioker, EG macam tim kemarin sore. Tapi EG menangin loser bracket dan ngadepin lagi CDEC di Final. Dengan pengalaman yang didapat EG dari kekalahan sebelumnya, pengalaman selama di loser bracket dan juga proses adaptasi yang telah dilakukan, EG dapat mengungguli CDEC di final dan menjadi juara TI5.

Masih segar diingatan para penggemar DOTA 2 pada TI 6, tim Digital Chaos, tim yang bisa dibilang dibentuk dari pemain yang terbuang. Tim yang pembentukannya mendekati deadline pendaftaran dan pada fase awal turnamen, fase liga mereka ada di posisi 8 (posisi terendah untuk masuk ke fase playoff). Tapi dengan adanya lower bracket mereka dapat masuk final dan membawa pulang hadiah sebesar $3.4 juta, ga bakal kejadian kalau ga ada sistem double-elimnation.

Apakah sistem single-elimination bracket menjadi solusi untuk alasan terlalu banyaknya turnamen dota 2 atau menjadi kerugian bagi tim, karena tidak adanya kesempatan kedua dan kerugian bagi penggemar karena jumlah pertandingan yang berkurang; Apakah juara sinle-elimination bracket ini akan menghasilkan juara sesungguhnya. Hanya waktu yang dapat menjawabnya. Kita sebagai penikmat DOTA 2 hanya berharap untuk turnamen The International tahun depan tetap mempertahankan sistem konvensianal atau double-elimination bracket sehingga jumlah pertandingan lebih banyak.

Salam, Matra Computer

Leave a Reply

All fields are required

Name:
E-mail: (Not Published)
Comment: